Rahasia Alutsista Indonesia 2014

Seperti kita semua tahu selama 30 tahun berkuasa Pak Harto selalu berkiblat ke blok barat dalam hal pengadaan alutsista.

PT.PAL Mulai Bangun Kapal PKR 10514

Setelah sekian lama “mbulet” mencari dan mencari, Indonesia akhirnya mulai membangun armada kapal perang produksi dalam negeri.

Tank Medium PT.Pindad

Indonesia dan Turki sepakat bekerjasama untuk mengembangkan tank medium baru. Kesepakatan ini ditandatangani 6 Februari 2014 di Jakarta, antara perusahaan FNSS Turki dengan PT Pindad Indonesia, untuk mengembangkan tank bagi keperluan TNI AD.

Kapal Selam Indonesia Siap Diproduksi PT.Pal

Jakarta – Komisi Bidang Pertahanan DPR-RI dan pemerintah sepakat tentang suntikan dana senilai US$ 250 juta atau Rp 2,5 triliun untuk memproduksi kapal selam di Surabaya- Jawa Timur.

Radar Pertahanan Indonesia Ditambah

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menilai radar khusus militer di Indonesia masih kurang. Untuk menutupi kekurangan tersebut, Kemenhan bekerja sama dengan radar sipil atau radar sekunder.

20 February 2014

Australia Enam Kali Langgar Batas Perairan Indonesia

Australia mengaku tidak sengaja karena salah perhitungan koordinat.
Kapal Angkatan Laut Australia (Ilustrasi)
Kamis, 20 Februari 2014 - Laporan internal Badan Bea Cukai dan Pertahanan Australia menunjukkan bahwa angkatan laut negara itu telah enam kali melanggar batas wilayah Indonesia. Mereka mengaku tidak sengaja melakukannya karena salah perhitungan koordinat perbatasan.

Diberitakan ABC News, Kamis 20 Februari 2014, sebenarnya masalah ini telah disampaikan Perdana Menteri Tony Abbott Januari lalu. Tapi Abbott tidak menyebutkan berapa kali pelanggaran ini terjadi.

Dalam laporan internal tersebut dikatakan bahwa pelanggaran ini terjadi antara 1 Desember dan 20 Januari lalu. Laporan juga mencakup soal perencanaan dan perintah saat peristiwa itu terjadi.

"Kru sebenarnya ingin tetap berada di luar perairan Indonesia," tulis laporan itu.

"Setiap pelanggaran terjadi tidak sengaja dan akibat salah kalkulasi perbatasan Indonesia oleh kru AL Australia," lanjut laporan tersebut.

Laporan tersebut mengatakan bahwa Angkatan Laut Australia saat itu ingin melakukan operasi pencegahan masuknya pencari suaka ilegal ke perairan mereka. Biasanya, operasi ini dilakukan di jarak aman yaitu 12 mil laut luar perbatasan Indonesia.

Pelanggaran tercatat pertama kali diketahui pada 15 Januari lalu saat laporan operasi tidak menunjukkan lokasi yang sesuai dengan perintah patroli. Pada laporan terdapat adanya 10 temuan dan lima rekomendasi.

Salah satu rekomendasinya adalah mendesak Kepala Angkatan Laut dan kepala Bea Cukai Australia untuk meninjau ulang setiap pelanggaran dan menghukum mereka yang terlibat pelanggaran tersebut. Direkomendasikan juga adanya peninjauan prosedur operasi dan diadakan pelatihan.

Menteri Imigrasi Scott Morrison mengaku menyesalkan pelanggaran tersebut. Dia mengatakan bahwa kepala AL Australia, Laksamana Ray Griggs telah menyampaikan hal ini pada Angkatan Laut Indonesia. Australia, kata dia, juga telah meminta maaf pada Indonesia.

"Diskusi telah dilakukan melalui perwakilan kami dan nota formal juga telah dikirimkan pada pemerintah Indonesia melalui saluran diplomatik. Kami juga menawarkan penjelasan verbal jika memang diminta," kata Morrison.

Morrison juga mendukung temuan bahwa peristiwa itu terjadi tidak disengaja. Namun alasan ini sepertinya akan ditolak oleh pemerintah Indonesia, seperti disampaikan Kadispen AL Laksamana Pertama TNI Untung Suropati.

"Di jaman seperti ini, perangkat navigasi untuk mengetahui posisi kapal perang sangat modern. Sangat tidak berdasar jika mereka mengatakan itu tidak disengaja atau bentuk kelalaian," kata Untung kepada ABC pekan lalu.

Copyright : http://www.viva.co.id/

18 February 2014

Radar Pertahanan Indonesia Ditambah

Radar Master T Merauke
Jakarta . Indonesia mengalami kekurangan radar untuk pertahanan dan rencananya, sebanyak 4 unit radar baru khusus militer berjenis radar primer, bakal didatangkan tahun 2014 ini. Hal ini tertuang dalam rencana strategis Kementerian Pertahanan 2009-2014. Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsma Hadi Tjahjanto menuturkan, hingga kini Indonesia baru memiliki 20 radar yang tersebar di seluruh Indonesia.
''Untuk radar kita sudah tergelar 20 radar dengan jenis Plesey, Thomson dan Master-T,” ujar Marsma Hadi Tjahjanto dalam keterangan tertulis kepada Liputan6.com di Jakarta, Jumat (14/02/2014).
Hadi menuturkan, TNI AU akan membeli radar-radar baru secara bertahap. Diharapkan, radar-radar itu dapat membantu menjaga perbatasan dan wilayah udara tanah air.
''Saya perlu tambahkan radar tambahan renstra 2, Jayapura, Tambolaka, Singkawang, Ploso. Pada renstra 3, Morotai, Ambon, Kendari, Tanjung Pandan, Bengkulu dan Nliyep Malang,” tuturnya.
Radar Thomson TRS 2215 R TNI AU
Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menilai radar khusus militer di Indonesia masih kurang. Untuk menutupi kekurangan tersebut, Kemenhan bekerja sama dengan radar sipil atau radar sekunder.
''Kekurangannya kami hitung sekitar 32-34 unit radar di seluruh Indonesia,” ucap Purnomo di Landasan Udara Ranai, Natuna, pada 30 Oktober 2013 silam.
Radar primer atau khusus militer digunakan untuk memantau dan mencatat segala jenis pesawat yang terbang yang menggunakan bahan baku logam. Sedangkan radar sekunder atau sipil digunakan pada penerbangan domestik dan tidak akan bisa memantau pesawat yang mematikan transmiternya. (Liputan6.com).

Copyright : http://jakartagreater.com

Alutsista Baru Denarhanud Rudal 001, Kodam IM

Lhokseumawe. Detasemen Artileri Pertahanan Udara (Arhanud) Rudal 001, Dewantara, Aceh Utara, menerima alutsista terintegrasi TD 2000 B, dalam upacara yang dipimpin Pangdam IM, Mayjen TNI Pandu Wibowo, di lapangan Arhanud, Aceh Utara, Rabu (29/1/2014). TD 2000 B merupakan senjata pertahanan udara gabungan antara rudal dan meriam buatan China.
Pangdam IM, Mayjen TNI Pandu Wibowo, di lapangan Arhanud, Aceh Utara, (29/1/2014)
Pangdam IM menambahkan 30 unit persenjataan andalan terbaru alutsista terintegrasi TD 2000 B meliputi, radar, FCDV-1 (alat kendali tembak), simulator, Meriam otomatis 57mm/AA jarak tembak efektif 6 km, kenderaal peluncur rudal, FFC kenderaan missile target tembak untuk memperkuat Artileri pertahanan/pengamanan udara di Aceh. Komposisi sistem persenjataan satu unit radar SR-74 dengan jarak tangkap sasaran hingga 60 km, empat unit FCDV alat kendali tembak dilengkapi pengarah optik dengan jarak jangkau 14 km, delapan unit FCV-1 dilengkapi rudal QW-3 dan mampu menembak sasaran secara efektif dalam jarak 7 km, serta simulator.
Radar TD 2000 B
Alutsista ini dilengkapi 12 pucuk meriam 57 mm/AA yang dapat dioperasikan baik otomatis maupun manual dengan jarak tembak efektif 6 km, serta satu unit FCC kendaraan yang dipergunakan untuk memeriksa misil yang akan ditembakkan dalam penugasan maupun latihan penembakan.

Mayjen Pandu Wibowo dalam sambutannya mengungkapkan, kehadiran alutsista baru ini merupakan perkuatan TNI AD dalam melaksanakan tugas pokoknya sesuai Undang-Undang (UU) No 34/2004 tentang TNI, yakni menegakkan kedaulatan, melindungi dan mempertahankan NKRI.

Alutsista terintegrasi TD 2000 B merupakan persenjataan andalan terbaru yang dimiliki Detasemen Arhanud Rudal-001 Kodam IM, menggantikan Rapier System. Alusista ini menjadi kunci bagi TNI AD dalam melaksanakan pertahanan negara dan dukungan operasional bagi Arhanud dalam menyelenggarakan pertahanan udara aktif terhadap objek vital nasional dengan menghancurkan dan meniadakan daya serangan musuh melalui pesawat terbang, rudal maupun balistik dalam mendukung tugas pokok Kodam IM.
12 pucuk meriam 57 mm/AA
Bukan “tebar pesona”

Menurut Mayjen Pandu Wibowo kehadiran senjata ini bukan untuk tujuan pasang aksi dan tebar pesona, tetapi menjadi pengobat dahaga bagi Detasemen Arhanud yang telah lama mendambakan kehadiran alutsista baru untuk menggantikan senjata lama yang telah dipensiunkan.

“Saya berharap dengan penambahan perlengkapan ini akan semakin meningkatkan pengamanan wilayah di jajaran Kodam IM sehingga kinerja pengamanan akan semakin maksimal,” ujarnya. Diakuinya, saat ini banyak alutsista di jajaran Kodam IM sudah tua dan membutuhkan pembaruan dan perbaikan. Namun, dopastikannya bahwa pasukan TNI selalu siaga menjaga tiap jengkal wilayah NKRI.

Sesuai arahan KSAD, lanjutnya, alutsista yang tiba harus segera disalurkan untuk mengisi satuan utama di jajaran TNI AD agar dapat digerakkan sewaktu-waktu.
Alutsista baru Denarhanud 001 Kodam IM
“Hari ini kita menerima persenjataan baru terintegrasi yang merupakan dukungan dari pusat untuk melaksanakan pertahanan udara aktif guna melindungi objek vital nasional maupun titik rawan lainnya di Aceh,” sebutnya.

Saat ditanya wartawan, Pangdam IM mengungkapkan, kehadiran alutsista TD 2000-B untuk menggantikan rudal lama yang sudah berumur 30 tahun. Akurasi senjata ini mencapai 98 persen dan cukup baik dioperasikan di daerah tropis, ujarnya seraya mengharapkan penambahan satu detasemen di Banda Aceh untuk melindungi kota ini dari serangan musuh.

Penerimaan sekaligus peusijuk ini dihadiri Wadan Pusat Senjata Arhanud, Kolonel ARH Fahrudin; Danrem 011/Lilawangsa, Kolonel Inf Hipdizah, Bupati Aceh Utara, M Thaib, Dandim 0103/Aceh Utara, Dan Arhanud 001, Mayor ARH Hari Purnomo; dan jajaran pejabat sipil dan militer lainnya.

Acara diakhiri dengan atraksi pemanfaatan alusista tersebut oleh prajurit TNI Detasemen Arhanud 001 ketika menghadapi serangan musuh dari udara.(analisadaily.com)

Copyright : http://jakartagreater.com

PT PAL Mulai Bangun Kapal PKR 10514

Setelah sekian lama “mbulet” mencari dan mencari, Indonesia akhirnya mulai membangun armada kapal perang produksi dalam negeri. Bukan lagi Korvet Nasional seperti yang dicita-citakan dulu, melainkan melompat ke kelas Frigate Nasional. PT PAL Indonesia mulai membuat kapal jenis Perusak Kawal Rudal (PKR) 105 meter atau Guide Missil Escort /Frigate terhitung tanggal 15/1/2014.
PKR Sigma 10514
Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro didampingi Kepala Staf TNI AL Laksamana TNI Marsetio, Direktur Utama PT PAL Indonesia, Firmansyah Arifin, CEO Damen Schelde Naval Shipbuilding (DSNS) Belanda HJ Van Ameijden serta Ketua Tim Pelaksana KKIP, Soemarjono, melakukan first steel cutting atau pemotongan pertama baja sebagai bahan baku pembuatan kapal PKR.
''Ini merupakan kapal pertama yang dibuat di sini (PT PAL Indonesia) dari empat yang kami pesan. Sebenarnya ada enam, tapi dua dipesan di DSNS Belanda,”ujar Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro.
Kapal PKR/Frigate no 1 ini merupakan kapal dengan ukuran panjang 105 meter dan lebar 14 meter dan nantinya akan menjadi kapal pembawa rudal baik untuk dipermukaan air maupun torpedo di dalam air.
Menteri Pertahanan dalam acara pemotongan pertama baja bahan baku kapal PKR di PT PAL Surabaya 15/1/2014 (photo:DMC)
Proses pembuatan kapal senilai 20 juta dolar Amerika Serikat (AS) ini dijadwalkan 48 bulan. Selanjutnya 9 hingga 10 bulan kedepannya, tiga kapal lainnya menyusul selesai.

Proses pembuatannya dilakukan dengan menggandeng instruktur dari DSNS. Dengan instruktur ini hadir selama pembuatan di PT PAL. Sementara para desainer dari PT PAL juga sudah belajar secara teknis di DSNS sejak rencana pembuatan kapal ini dibuat sejak 2011 lalu.
''Ini merupakan bagian dari alih teknologi. Saya sudah minta Damen (DSNS) untuk melibatkan PT PAL,” ujar Purnomo.
Kementerian Pertahanan  sudah mendapatkan anggaran sebesar Rp 150 triliun dari pemerintah untuk pengadaan alutsista. Kapal PKR/Frigate merupakan bagian dari anggaran itu.

Menteri Pertahanan (Menhan) meminta kepada KKIP untuk ikut mengawasi pembangunan Kapal PKR/Frigate ini dari waktu ke waktu dan terus meningkatkan kemampuan Industri Pertahanan. Menhan menekankan bahwa proyek pembangunan Kapal PKR/Frigate ini untuk mendukung pengamanan wilayah perairan Indonesia yang luas yang membutuhkan kemampuan kekuatan TNI AL yang tinggi. Menhan mengharapkan agar pada pembangunan kapal ke-2, Transfer Of Technology yang diterima Indonesia lebih banyak lagi porsinya dari pembangunan kapal pertama.

Kapal dengan panjang 105 Meter ini merupakan Kapal pertama yang dibangun dari 2 kapal pesanan TNI AL yang rencananya akan memakan waktu selama 48 bulan atau diharapkan selesai pada akhir Desember 2016. Pembangunan Kapal PKR/Frigate ke-1 ini terdiri dari 6 modul dimana pengerjaan 4 modul nya dilakukan oleh PT PAL Indonesia di Surabaya dan 2 modul akan dikerjakan oleh DSNS di galangan kapal DSNS di Belanda.
PKR Sigma 10514
 PKR/Frigate ini merupakan kapal berteknologi dan berkemampuan tinggi yang merupakan langkah besar bagi PT PAL. Selanjutnya, pada rencana strategis (renstra) kedua pada 2015 – 2018 TNI AL berencana melanjutkan proyek ini dengan kapal ke-3 dan kapal ke-4.

KASAL Laksmana TNI Marsetio menambahkan, nantinya kapal ini akan menunjang tugas-tugas TNI AL dalam melakukan pengamanan perairan Indonesia.

“Fungsinya dalam perang bisa menjadi kapal yang ditakuti musuh. Di masa damai ini, fungsinya tentu melakukan pengamanan laut dari ancaman kriminalitas lain, seperti pencurian, pembajakan kapal, dan sejenisnya,” jelas Marsetio. (TRIBUNNEWS.COM /dmc.kemhan.go.id)

 Copyright : http://jakartagreater.com

Tank Medium PT.Pindad

Indonesia dan Turki sepakat bekerjasama untuk mengembangkan tank medium baru. Kesepakatan ini ditandatangani 6 Februari 2014 di Jakarta, antara perusahaan FNSS Turki dengan PT Pindad Indonesia, untuk mengembangkan tank bagi keperluan TNI AD.
ACV 300 BMP-3 Turret, FNSS Turki
Diperkirakan tank baru ini memiliki desain konvensional, yang memungkinkan dipasang turet dengan canon 105 mm serta dual co-axial machine gun (MG) 7.62 mm dengan sistem penembakan bersifat komputerisasi.
"Untuk memudahkan penyebarannya di Indonesia, diharapkan tank ini memiliki berat tempur sekitar 25 ton.
ACV 300 Turki
Disain Tank Pindad yang sempat beredar
FNSS memiliki pengalaman luas dalam desain, pengembangan dan produksi kendaraan tempur lapis baja berpenggerak roda maupun rantai (tracked). Lapis baja buatan FNSS terakhir adalah keluarga/ varian Armoured Combat Vehicle (ACV), yang dibangun dalam jumlah signifikan untuk keperluan dalam negeri Turki maupun pasar ekspor.(Janes.com).

Copyright : http://jakartagreater.com

Kapal Selam Indonesia Siap Diproduksi PT Pal

Jakarta – Komisi Bidang Pertahanan DPR-RI dan pemerintah sepakat tentang suntikan dana senilai US$ 250 juta atau Rp 2,5 triliun untuk memproduksi kapal selam di Surabaya- Jawa Timur. Dana tersebut akan diberikan kepada BUMN PT PAL, sebagai Penyertaan Modal Negara (PMN) untuk membuat kapal selam kelas Changbogo asal Korea Selatan (Korsel).
Changbogo Class Submarine (photo: alutsista)

Wakil Ketua Komisi I DPR-RI TB Hasanuddin menjelaskan, pembiayaan ini akan diberikan secara bertahap. Skema PMN untuk produksi kapal selam mulai dianggarkan pada APBN-Perubahan 2014.
"Komisi I DPR-RI dan pemerintah sepakat bahwa pemenuhan kebutuhan dana penyiapan infrastruktur untuk membangun kapal selam TNI yang ke-3 di PT PAL sebesar maksimal US$ 250 juta, akan dibiayai secara bertahap dengan skema PMN dan akan mulai dianggarkan pada APBN-P tahun anggaran 2014,” katanya saat Rapat Dengar Pendapat dengan Pemerintah di Jakarta (17/2/2014)
Ia menjelaskan skema PMN rencananya akan dimulai pada April tahun ini, melalui kementerian BUMN.

“Selanjutnya pemerintah dengan leading sector-nya kementerian BUMN menyediakan bridging pendanaan selama skema PMN tersebut untuk memenuhi target implementasi yang dimulai pada April 2014,” katanya.
"Di tempat yang sama, Menteri Pertahanan (Menhan) Purnomo Yusgiantoro mengatakan pembangunan infrastruktur kapal selam akan dilakukan oleh PT PAL yang bekerjasama dengan Daewoo Shipbuilding Marine Enginerering (DSME).
“Kapal selam Indonesia ini akan dibuat tahap pertama 3 unit, 2 di Korea dan 1 di Indonesia, totalnya nanti akan ada 12 kapal yang dibuat,” kata Purnomo.
Kapal Selam Changbogo Korea Selatan (Photo: MC2 Benjamin Stevens/United States Navy)
Dalam rapat dengar pendapat yang dipimpin oleh TB Hasanuddin diikuti oleh sekitar 20-an anggota DPR. Sementara untuk para Menteri yang hadir antara lain adalah Menteri BUMN Dahlan Iskan, Wakil Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro, Menhan Purnomo Yusgiantoro, Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin dan Panglima TNI Moeldoko.

Sebelumnya, satu dari tiga kapal selam kelas Changbogo yang dipesan Indonesia dari Korea Selatan (Korsel) mulai diproduksi tahun ini di Korsel. Rencananya satu unit lagi kapal selam akan dibuat di Korsel dengan melibatkan BUMN PT PAL.

Sedangkan sisanya akan dibuat di Indonesia sebagai bagian dari program transfer of technology (ToT) untuk Indonesia di galangan PT PAL, Surabaya.
Seperti diketahui Kementerian Pertahanan pada akhir Desember 2011 lalu menandatangani kontrak pengadaan tiga unit kapal selam dengan perusahaan galangan kapal asal Korea Selatan, Daewoo Shipbuilding Marine Enginerering (DSME). Tiga kapal selam ini akan segera melengkapi armada tempur TNI Angkatan Laut. (detik.com).

Copyright : http://jakartagreater.com

Rahasia Alutsista Indonesia 2014

Jakarta 17/02/2014 – Perdebatan kiblat dari pembelian alutsista militer selama ini, menarik untuk dicermati. Kalau ditelaah semenjak kejadian embargo oleh USA dan konco-konconya tahun 1999 sampai 2004, sepertinya sudah menjadi pengalaman pahit dan berharga bagi TNI. Seperti kita semua tahu selama 30 tahun berkuasa Pak Harto selalu berkiblat ke blok barat dalam hal pengadaan alutsista. Yang berdatangan pun boleh dibilang alakadarnya mulai pemaksaan pemakaian F.86 Sabre dan T.33 ex RAAF medio tahun 1970-an sampai penjatahan jenis, spesifikasi dan jumlah unit yang bisa dibeli dalam medio 1980-an. Pada akhirnya pewaris tahta alias presiden-presiden kita selanjutnya mengalami betul yang namanya pelecehan yang diakibatkan rendahnya daya gedor alutsista kita. Puncaknya adalah pelecehan paling parah di ambalat yang dilakukan oleh sonora.

Rudal Krypton Kh-31 diusung Fighter Sukhoi Indonesia (photo: FB Jiwa Merah Putih)

Kita Marah ? 

Ya, kita rakyat Indonesia tentu marah dan Pak SBY geram betul tapi beliau sadar, kalau kekuatan alutsista TNI kita saat itu masih tertinggal jauh dari negara-negara tetangga yang sok jaguh. Sejumlah langkah beliau lakukan dalam langkah penguatan alutsista TNI. Selain kontrak-kontrak warisan penguasa sebelumnya yaitu pengadaan 4 buah korvet SIGMA, pengadaan 4 unit LPD kelas Banjarmasin, pembelian beberapa unit pesawat latih KT-1 B Wong bee yang di dalamnya ada skema hibah beberapa unit LVT 7 (landing Vehicle Tank) dari Korea Selatan untuk Marinir TNI AL, Pembelian beberapa unit baterai peluncur roket RM 70 Grad dari Ceko, pembelian beberapa Helicopter Colibri untuk TNI AU dan TNI AL, Rudal QW 3 dari China dan beberapa kontrak pembelian lain, maka diperlukan juga pembelian alutsista strategis yang lebih gahar dari blok timur yaitu blok sahabat lama yang kemungkinan mengembargo kita kedepannya kecil sekali, antara lain : 

1. Kontrak pengadaan Alutsista berupa fasilitas kredit senilai 1 miliar dolar tahun 2007 (seperti yang diumbar kemedia massa) dari RUSIA, yang digunakan untuk membeli 3 Sukhoi 27 SKM dan 3 Sukhoi 30 MK2 senilai $ 300 juta (untuk melengkapi 4 unit Sukhoi kita yang dipesan tahun 2003) dan $ 700 juta lainnya digunakan untuk membeli 2 unit kapal selam kelas Kilo.

 Apakah Indonesia hanya mengajukan fasilitas kredit senilai 1 miliar dolar kepada Rusia ? Menurut saya jawabannya tidak, alias Indonesia mengajukan fasilitas kredit dengan nilai lebih dari 1 miliar dolar.

Kenapa ? Karena pada tahun setelahnya mulai berdatangan alutsista dari RUSIA selain dua yang disebut di atas. Mulai dari beberapa unit Helicopter Mi 35 Hind E dan Hind P dan beberapa unit Helicopter Mi 17 buat TNI AD. Beberapa unit Panser BTR 80 buat Marinir TNI AL, 17 unit Tank BMP 3F buat marinir TNI AL, pembelian beberapa rudal termasuk rudal yakhont (ini yang dipublish dan diperlihatkan barangnya ke publik walaupun tidak dirilis berapa unit sebenarnya yang dibeli). 

Kalau begitu ada kemungkinan dong saat itu kita pesan Sukhoi lebih dari enam unit ? Atau berarti dua Kapal Selam Kilo yang dulu kita pesan itu, sekarang sudah menyelam jalan-jalan dong di perairan kita ?. Benar, bisa jadi seperti itu. jumlah Sukhoi kita sesungguhnya adalah lebih dari 16 unit. (tidak seperti yang dipublish) kenapa, karena sukhoi kita ini termasuk alutsista yang sangat strategis sampai-sampai rudal-rudalnya saja, baru dimunculkan secara resmi saat latihan Angkasa Yudha 2013. 

Begitupun dengan KS Kilo dua unit, pastinya sudah berkeliaran di perairan nusantara kita. Sebagai bahan analisa saja, kenapa Sukhoi datangnya masih dibungkus dan diangkut pakai pesawat Antonov Rusia dan dirakit di sini ? Kenapa tidak terbang ferry saja dari negara pembuat ke Indonesia macam T. 50 I atau F. 16 zaman tahun 1989-1990 dulu. 

Kalau jaraknya jauh ya memang tidak masuk dilogika juga, secara Super Tucano saja yang jarak Brazil ke Indonesia lebih jauh tetap terbang ferry. Seperti berita yang saya kutip. 

“karena sesuai amanat UU Kebebasan Informasi Publik, Mengenai tudingan Indonesian Corruption Watch (ICW) soal pemerintah yang tidak transparan soal pengadaan alutsista, Andi mengatakan berdasarkan UU proses pembelian senjata termasuk hal yang dikecualikan”.

Andi menambahkan, “Dalam UU Kebebasan Informasi Publik proses pengadaan senjata memang termasuk dalam hal-hal yang dikecualikan. Kementerian Pertahanan tidak wajib mempublikasikan, bahkan harus menerapkan prinsip kehati-hatian.”

Apalagi Sukhoi dan KS Kilo merupakan produk buatan blok timur, yang notabene gampang banget dijaga kerahasiaannya karena kita sudah mempunyai perjanjian kerjasama militer dengan Rusia.

Berbeda dengan produk buatan blok barat yang walaupun sudah kita jaga kerahasiaannya, tetap saja ketahuan (malahan kita ditertawai) karena negara calon musuh kita seperti Sonotan tinggal tanya doang ke negara pembuatnya.

Makanya tahun 2012, sebelum latihan “Pitch Black” Kepala Staf RAAF sampai datang langsung ke sarang Thunder di Hasanuddin, untuk memeriksa dan menghitung satu-satu sukhoi kita. Ada berapa sih ?.

Dan alhamdulilah yang dipajang di apron dan hanggar tetap 10 unit dan yang dikirim buat latihan cuma 4 (empat) unit.Soalnya menurut data intelejen mereka, sukhoi TNI AU termasuk 6 biji yang dipesan tahun 2011 dan diterima 2013, jumlahnya total ada 24 biji. Makanya meraka mati-matian menyadap kita karena ingin memperoleh informasi akurat tentang alutsista apa saja yang sudah dibeli dan jumlahnya dari Rusia.

Begitupun dengan Kapal Selam Kilo sudah berapa banyak pemberitaan media luar dari tetangga-tetangga kita yang mengkonfirmasikan keberadaan “mahluk halus” Hiu Kencana itu. Makanya atas dasar inilah mereka mati-matian, melakukan penyadapan lebih intensif kepada indonesia.
Presiden SBY memandangi model kapal selam Kilo Rusia (photo: setneg)
2. Pembantukan dan pelaksanaan program Minimum Essential Force (MEF) mulai dari tahap I sampai III.

Di sini jelas sekali dalam memenuhi kekuatan minimum tersebut Indonesia memainkan peran cantiknya sebagai negara non blok dengan baik. Berbagai macam alutsista dari Blok Barat dan Blok Timur dibeli dan dipublikasikan kepada masyarakat umum.
Antara lain :

Blok Barat :
- Pembelian 6 unit F. 16 Block 60 / berubah menjadi hibah 24 unit F. 16 Block 25 (upgrade Block 32++) +
  4 unit F.16 Block 25 sebagai cadangan sparepart dan 2 unit F. 16 Block 15 OCU cadangan sparepart
  (sepertinya ini diupgrade juga).

- Pembelian 16 unit T. 50 I dari korsel, disertai skema hibah beberapa unit LVT 7 (landing Vehicle Tank)
  buat marinir dan beberapa unit F.5 tiger II untuk TNI AU (belum jelas diambil atau tidak walaupun ada
  berita TNI AU menolak karena tidak sesuai).

- Pembelian 16 unit Super Tucano dari EMBRAER Brazil.
- Pembelian 18 unit Pesawat Latih G 120tp Grob dari Jerman.
- Pembelian beberapa unit UAV Searcher II dan Heron dari Israel (dibeli melalui perusahaan yang
  berdomisili di Filipina)

- Pembelian 9 unit pesawat angkut ringan CN. 295.
- Pembelian 9 unit pesawat angkut C. 130 Hercules ex
  RAAF (4 biji hibah/retrofit + 5 biji beli dengan harga murah).
- Pembelian 6 unit Helicopter EC 725 Cougar.
- Pembelian 2 unit Fregat Sigma 10514.

- Pembelian 3 unit Fregat kelas Nakhoda Ragam.
- Pembelian 3 unit KS Changbogo
- Pembelian MBT Leopard
- Pembelian Medium Tank Marder

- Pembelian beberapa baterai RM 70 Grad
- Pembelian 36 unit Astros II
- Pembelian 8 AH-64 E Apache
- Pembelian beberapa rudal seperti Helfire II, AIM-120, AIM-9, starstreak II, Exocet dan lain-lain.
Helikopter Serang AH-64E Apache (photo: boeing)
Blok Timur :
- Pembelian 6 unit Sukhoi 30 MK2
- Pembelian 37 Tank BMP 3F
- Pembelian beberapa unit panser amphibi BTR 80A
- Pembelian 55 unit BTR 4 dari Ukraina
- Pembelian rudal C. 802 dan C.705 dari China
BTR 4
Selain pembelian berbagai jenis alutsista tersebut, dalam MEF I Indonesia juga memperkuat militernya dengan berbagai macam jenis alutsista buatan dalam negeri,

Antara lain :

- Pembelian Panser Anoa
- Pembelian Panser Komodo
- Pembelian 35 unit heli Bell 412 EP
- Pembelian 3 unit CN. 235 Patmar
- Pengadaan beberapa unit KCR 40

- Pengadaan beberapa unit KCR 60
- Pengadaan beberapa unit perusak Trimaran kelas Klewang
- Pengadaan 2 unit kapal bantu cair minyak
- Pengadaan kapal LST untuk Leopard
- Pengadaan beberapa unit kapal Patroli buatan fasharkan TNI AL
 " Daftar belanja diatas adalah daftar belanja MEF I yang dipublish oleh Kementerian Pertahanan untuk konsumsi masyarakat Indonesia, sedang daftar belanja yang tidak dipublish tentunya ada (terutama dari Blok Timur), dan biarlah tetap menjadi rahasia sampai nanti pada saatnya akan terbongkar dengan sendirinya. (contoh kasus operasi Alpha pengadaan A.4 Skyhawk dari Israel).

Sebelum berakhirnya MEF pertama, dengan dana pengadaan alutsista yang masih tersisa, Indonesia kembali mendapat tawaran hibah alutsista strategis berupa beberapa kapal selam, fregat sampai destroyer dari Rusia. Dan atas tawaran itu pihak Kementerian Pertahanan dan TNI telah memberangkatkan tim untuk mengevaluasi tawaran menarik ini.
"Selain itu tidak lupa pembelian Sukhoi 35 dan tentu saja sistem pertahanan jarak menengah jauh yang saat ini sedang digodok oleh kemenhan.
Mengenai ToT percayalah selain dengan Korea Selatan, sesungguhnya Indonesia juga menjajaki ToT dengan beberapa negara lain terutama dengan Rusia. Kemenhan pun telah mempunyai rencana Plan B apabila pengerjaan rencana Plan A itu gatot, demi kemandirian bangsa ini berswasembada alutsista sendiri.
Pada akhirnya kita berharap bahwa apa yang telah dilakukan oleh pemimpin kita saat ini, dapat dilanjutkan kembali oleh pemimpin kita yang terpilih selanjutnya nanti. Mudah-mudahan saja pemimpin kita nanti itu tetap sekuat tenaga melanjutkan program penguatan alutsista TNI ini sampai pada renstra III jikalau perlu sampai selamanya. (written by pocong syereem).

Copyright : http://jakartagreater.com