20 February 2014

Australia Enam Kali Langgar Batas Perairan Indonesia

Australia mengaku tidak sengaja karena salah perhitungan koordinat.

Kapal Angkatan Laut Australia (Ilustrasi)
Kamis, 20 Februari 2014 - Laporan internal Badan Bea Cukai dan Pertahanan Australia menunjukkan bahwa angkatan laut negara itu telah enam kali melanggar batas wilayah Indonesia. Mereka mengaku tidak sengaja melakukannya karena salah perhitungan koordinat perbatasan.

Diberitakan ABC News, Kamis 20 Februari 2014, sebenarnya masalah ini telah disampaikan Perdana Menteri Tony Abbott Januari lalu. Tapi Abbott tidak menyebutkan berapa kali pelanggaran ini terjadi.

Dalam laporan internal tersebut dikatakan bahwa pelanggaran ini terjadi antara 1 Desember dan 20 Januari lalu. Laporan juga mencakup soal perencanaan dan perintah saat peristiwa itu terjadi.

"Kru sebenarnya ingin tetap berada di luar perairan Indonesia," tulis laporan itu.

"Setiap pelanggaran terjadi tidak sengaja dan akibat salah kalkulasi perbatasan Indonesia oleh kru AL Australia," lanjut laporan tersebut.

Laporan tersebut mengatakan bahwa Angkatan Laut Australia saat itu ingin melakukan operasi pencegahan masuknya pencari suaka ilegal ke perairan mereka. Biasanya, operasi ini dilakukan di jarak aman yaitu 12 mil laut luar perbatasan Indonesia.

Pelanggaran tercatat pertama kali diketahui pada 15 Januari lalu saat laporan operasi tidak menunjukkan lokasi yang sesuai dengan perintah patroli. Pada laporan terdapat adanya 10 temuan dan lima rekomendasi.

Salah satu rekomendasinya adalah mendesak Kepala Angkatan Laut dan kepala Bea Cukai Australia untuk meninjau ulang setiap pelanggaran dan menghukum mereka yang terlibat pelanggaran tersebut. Direkomendasikan juga adanya peninjauan prosedur operasi dan diadakan pelatihan.

Menteri Imigrasi Scott Morrison mengaku menyesalkan pelanggaran tersebut. Dia mengatakan bahwa kepala AL Australia, Laksamana Ray Griggs telah menyampaikan hal ini pada Angkatan Laut Indonesia. Australia, kata dia, juga telah meminta maaf pada Indonesia.

"Diskusi telah dilakukan melalui perwakilan kami dan nota formal juga telah dikirimkan pada pemerintah Indonesia melalui saluran diplomatik. Kami juga menawarkan penjelasan verbal jika memang diminta," kata Morrison.

Morrison juga mendukung temuan bahwa peristiwa itu terjadi tidak disengaja. Namun alasan ini sepertinya akan ditolak oleh pemerintah Indonesia, seperti disampaikan Kadispen AL Laksamana Pertama TNI Untung Suropati.

"Di jaman seperti ini, perangkat navigasi untuk mengetahui posisi kapal perang sangat modern. Sangat tidak berdasar jika mereka mengatakan itu tidak disengaja atau bentuk kelalaian," kata Untung kepada ABC pekan lalu.

Copyright : http://www.viva.co.id/

0 comments:

Post a Comment